KOMPAS.com - Megapolitan: Prijanto Semakin Terbuka soal Ketidakcocokan dengan Foke

Jumat, 27 Januari 2012 indocms.net

KOMPAS.com - Megapolitan
News and Service // via fulltextrssfeed.com
Prijanto Semakin Terbuka soal Ketidakcocokan dengan Foke
Jan 27th 2012, 21:29

KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo bersama Wakil Gubernur Prijanto memotong tumpeng saat Apel Peringatan HUT ke-483 Kota Jakarta di halaman Tugu Monas, Jakarta, Selasa (22/6/2010).

KOMPAS.com - Pada hari Minggu (25/12/2011), sosok Prijanto yang merupakan Wakil Gubernur DKI Jakarta menyedot banyak perhatian masyarakat lantaran pernyataan pengunduran dirinya sebagai pendamping Fauzi Bowo. Banyak pihak berpendapat terhadap sikap yang diambil oleh purnawirawan TNI ini mengingat masa baktinya tinggal tersisa 10 bulan lagi.

Setelah hampir sebulan lamanya masyarakat bertanya-tanya mengenai alasan yang memicu mundurnya Prijanto, ia pun muncul dengan buku berjudul "Kenapa Saya Mundur dari Wagub DKI Jakarta" yang seharusnya diberikan pada anggota DPRD DKI Jakarta saat rapat paripurna yang batal pada Rabu (25/1/2012). Buku setebal 88 halaman disertai lampiran ini seolah menjadi buku harian yang berisi curahan hati dari seorang Prijanto untuk Fauzi Bowo yang berpasangan selama empat tahun ini.

Ia bertutur dengan gamblang melukiskan perasaannya terhadap perlakuan atasannya tersebut. Ia mengungkapkan bahwa semakin lama hubungan antara atasan dan bawahan ini makin tidak sehat sehingga tidak memungkinkan baginya untuk bekerja secara produktif. Menurutnya, banyak ide yang dilontarkan kepada Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo, untuk solusi masalah Jakarta tidak mendapat tanggapan.

"Pelan-pelan saya belajar menyadari bahwa saya hanya berhadapan dengan situasi dan kondisi yang bagaikan tembok. Sesungguhnya tanda-tanda itu sudah tampak di masa kampanye," kata Prijanto dalam tulisannya di buku "Kenapa Saya Mundur dari Wagub DKI Jakarta".

Ia mengungkapkan pernah acara rapat dengan komisi-komisi DPR RI terpaksa batal setelah mengetahui yang menerima adalah dirinya bukan Gubernur DKI Jakarta. Kemudian yang menurutnya juga tak kalah menyakitkan adalah saat acara Coffee Morning di Balaikota pada tahun 2008, ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk berbicara padahal ia sudah menyiapkan paparan untuk hari itu.

"Menjelang acara dimulai, Karo KDH lapor, Wagub tidak diijinkan bicara! Sudah susah-payah berusaha membantu Gubernur untuk menyelesaikan masalah kota Jakarta malah tidak boleh ngomong," tuturnya.

Kemudian pada saat Rapat Pimpinan yang membahas masalah perparkiran, Foke sempat naik darah dan berbicara dengan nada keras serta memberi penekanan penyebutan gelar doktor. Seolah-olah mengindikasikan bahwa penanganan masalah parkir ini hanya bisa diselesaikan seseorang yang memiliki gelar doktor.

"Gubernur menghina karena saya tidak punya gelar? Gelar itu penting sekali, apalagi bila gelar itu melekat pada pribadi yang punya komitmen untuk memihak golongan lemah. Tapi apa gunanya gelar akademis yang tinggi tapi mandul, buta dan tuli terhadap kenyataan hidup yang memerlukan pemihakan," ujarnya.

Bahkan menurutnya untuk pelimpahan tugas dan urusan dinas, Gubernur tidak pernah memberitahu kepada dirinya selaku Wagub. Baik itu secara lisan, telepon ataupun pesan singkat. Ia pun menganggap Gubernur menodai bulan madu mereka saat terjadi polemik mengenai Dirut PAM Jaya.

Memasuki tahun 2011, situasi kerja yang tidak harmonis semakin menjadi. Ia merasa tidak diberi kesempatan untuk mengabdi pada masyarakat. Contohnya pada rangkaian kegiatan HUT DKI Jakarta ke-484, dirinya sama sekali tidak mendapat penugasan. Padahal tahun-tahun sebelumnya, berbagai festival masih dibuka olehnya.

"Ada perubahan sikap Gubernur. Tahun 2011 Gubernur tidak memberikan pelimpahan tugas kepada saya seperti tahun-tahun lalu," ungkapnya.

Sementara itu, dari sumber yang dihimpun, Prijanto tidak memiliki ruangan kerja sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta sehingga harus berbagi dengan Sekretaris Daerah. Hal ini diduga Fauzi Bowo yang seharusnya pindah ruangan saat sudah menjadi Gubernur, tetap ingin menempati ruangannya saat masih menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta pada era Sutiyoso.

Fauzi Bowo sendiri enggan buka mulut ketika dikonfirmasi terkait berbagai polemik yang melatarbelakangi mundurnya Prijanto dan ada dugaan pecah kongsi antara keduanya. "Saya enggak ngurus yang begituan. Saya fokus kerja," ujar Foke sambil berlalu.

Meskipun ia menyayangkan pengunduran diri sang wakil, tapi ia tetap menjamin pelayanan kepada masyarakat Jakarta tetap aman. Ternyata pernyataan ini berbuntut tanggapan dari Prijanto yang semakin merasa tidak dibutuhkan lagi keberadaannya.

"Silakan cermati pidato Gubernur menanggapi pengunduran diri saya di GOR Lokasari, kurang lebih memiliki substansi, tidak masalah tidak ada Wagub. Dengan demikian jelas saya sudah tidak dibutuhkannya lagi," ungkapnya.

Terkait isu pengunduran dirinya karena alasan Pemilukada 2012, ia mengungkapkan tidak ada pemikiran ke arah itu. Mundurnya dia dari jabatannya kali ini lebih karena masalah harga diri atas gaya, sikap, tutur kata dan ketidak konsistenan misi yang dicanangkan saat pencanangan dahulu.

"Sejujurnya saya ingin bersama-sama Gubernur membangun Jakarta untuk dua kali atau dua periode," tuturnya.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.
If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

 
 
 
 
 
Copyright © 2004-2010 REFORMATA. All rights reserved .
Visit: 1.846.635 Hit: 2.632.797 Since: 14.11.05 | 1.2278 sec | TOP